Galunggung dalam Bingkai Sejarah

  Sabtu, 23 Maret 2019   Irpan Wahab Muslim
Gunung Galunggung. (Irpan Wahab/Ayotasik.com)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM–Siapa yang tidak kenal dengan Gunung Galunggung. Gunung yang berada di Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, yang berada di ketinggalan 2.167 meter di atas permukaan laut ini merupakan salah satu gunung aktif yang ada di Indonesia.

Saat ini, Gunung yang pernah meletus hebat pada tahun 1982 ini menjadi objek wisata primadona warga Tasikmalaya.

Meski sudah dikenal mengenai keindahan Gunung Galunggung, tidak banyak orang yang mengetahui sejarah gunung yang berjarak lebih kurang 17 km dari pusat Kota Tasikmalaya ini.

Ayotasik.com mencoba menggali dan menelusuri sejarah gunung galunggung ini.

Ditemukannya Prasasti Geger Hanjuang di Desa Linggamulya, Kecamatan Leuwisari, oleh K.F. Holle pada  1877 sebagai penanda atau bukti bahwa pada zaman dahulu Galunggung merupakan sebuah kerajaan.

Dalam prasasti tersebut terdapat tulisan berbahasa Sunda kuno yang berbunyi ‘tra ba I guna apuy na sta gomati sakakala ru mata k disusu (k) ku batari hyang pun’. Jika diterjemahkan, arti dari tulisan tersebut yakni, (Pada tahun) 1033 (saka) (ibu kota) ruma(n) tak diperkuat (pertahanannya) oleh Batari Hyang.

AYO BACA : Galunggung sebagai Kabuyutan

“Batari Hyang memperkuat benteng pertahanan di Ibu Kota Kerajaan Galunggung yaitu Rumantak yang dilakukan pada tahun 1033 saka atau 1111 masehi. Memperkuat pertahannya dengan cara membuat parit atau nyusuk atau marigi,” kata Muhajir Salam, sejarawan dari Soekapoera Institute Indonesia, Sabtu (23/3/2019).

Dilihat dari Prasati Geger Hanjuang itu, lanjut Muhajir, ada dua hal yang menjadi penting dalam teks prasasti, yakni Rumantak sebagai ibu kota kerajaan dan Batari Hyang  sebagai penguasa atau pemimpin kerajaan.

Siapakah Batary Hyang? Pada awal abad XI M, Kerajaan Sunda di bawah kepemimpinan Sri Jayabupati  adalah kerajaan yang sangat kuat. Sedangkan Galunggung pada saat itu dikuasai oleh Resi Guru Sudakarmawisesa. Beliau menikah dengan Dewi Citrawati yang merupakan anak Resi Guru Batara Hyang Purnawijaya keturunan Sri Jayabupati.

“Setelah menikah, Sudakarmawisesa memilih untuk melakukan perjalalan spiritual dan mempercayakan tahta kepada Dewi Citrawati dengan gelar Batari Hyang Janapati,” pungkas Muhajir.

Batari Hyang memimpin Kerajaan Galunggung dengan bijaksana. Kepemimpinannya mampu membawa Kerajaan Galunggung pada kegemilangan, dan nasihat-nasihatnya tentang kehidupan menjadi rujukan generasi berikutnya, tidak hanya di lingkungan Kerajaan Galunggung, tetapi juga dalam lingkup yang lebih besar.

Asumsi ini didasari oleh keterangan yang bisa dibaca dari naskah Amanat Galunggung yang berbunyi ‘jaga isos di carék nu kwalyat, ngalalwakon agama nu nyusuk na Galunggung, marapan jaya pran jadyan tahun, heubeul nyéwana, jaga makéyana patikrama, paninggalna sya séda’.

Artinya, tetaplah mengikuti ucap orang tua, melaksanakan ajaran yang membuat parit pertahanan di Galunggung, agar unggul perang, serta tumbuh tanam-tanaman, lama berjaya panjang umur, sungguh-sungguhlah mengikuti patikrama warisan dari para suwargi.

AYO BACA : Tahun 2012, Status Galunggung Pernah Meningkat

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar