Objek Wisata Situ Gede dan Mitos Warga Sumedang

  Kamis, 11 April 2019   Irpan Wahab Muslim
Objek wisata Situ Gede. (Irpan Wahab/Ayotasik.com)

MANGKUBUMI, AYOTASIK.COM–Selain memiliki keindahan dan kesejukan, Situ Gede yang berada di Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, menyimpan mitos, yakni warga yang berasal dari Kabupaten Sumedang dilarang untuk berkunjung, apalagi bermain air di Situ Gede.

Mitos itu berkembang bukan tanpa alasan. Area Situ Gede yang luasnya 47 Haktare terdapat makam Eyang Prabudilaya yang merupakan salah satu keluarga kerajaan Sumedang Larang. Makam tersebut diyakini masyarakat berada di tengah bukit rimbun di Situ Gede.

Nandang Suherman, kuncen atau sesepuh Situ Gede, mengatakan, Eyang Prabudilaya merupakan sosok penyebar Islam di Tasikmalaya. Beliau mengembara dan keluar dari lingkungan kerajaan untuk mencari dan mendalami ilmu ke Tasikmalaya.

“Beliau itu berasal dari Sumedang, beliau ngalalana (mengembara) untuk mencari dan mendalami ilmu di Tasikmalaya,” papar Nandang, Kamis (11/4/2019).

Dalam mencari dan mendalami ilmu tersebut, lanjut Nandang, Eyang Prabudilaya sering melakukan tapa atau mati geni. Suatu ketika, keberadaannya tidak diketahui oleh kedua istrinya, Sekar Karembong dan Sembahdalem.

“Muncul kecurigaan dari kedua istrinya itu, saat keberadaan Prabudilaya diketahui, keduanya sepakat untuk membunuhnya. Dan terjadi pembunuhan itu hingga Prabudiyala meninggal dunia,” papar Nandang.

Setelah meninggal, istri pertamanya, Sekar Karembong, berniat menguburkan jenazah Eyang Prabudilaya dibantu dua murid atau pengawalnya. Mereka kebingungan mencari tempat penguburan hingga melewati beberapa daerah di Tasikmalaya. Tempat-tempat yang pernah disinggahi oleh Sekar Karembong dan dua murid Eyang Prabudilaya itupun dijadikan nama wilayah di Kota Tasikmalaya.

“Nah, melihat satu bukit di wilayah Situ Gede ini, akhirnya diputuskan untuk menguburkan jenazah eyang di sini. Tetapi kemudian, Sekar Karembong khawatir dua murid eyang membocorkan pembunuhan ke pihak kerajaan dan akhirnya dua murid itu dibunuh juga,” papar Nandang.

Dari cerita itu, lanjut Nandang, muncul mitos yang kini diyakini masyarakat sekitar.

Nandang menceritakan, mitos itu pernah menjadi kenyataan sekitar tahun 1990-an. Saat itu, perahu rakit yang membawa rombongan terbalik di tengah Situ karena angin kencang.

Rakit yang terbuat dari bambu itu ditumpangi tiga orang, beruntung semua penumpang berhasil diselamatkan.

“Waktu ditanya asal, ada satu penumpang bilang dari Sumedang. Mitos itu sudah berkembang di masyarakat. Percaya atau tidaknya ya kembali ke diri masing-masing saja. Tetapi dari kejadian itu jadi sebuah kebiasaan kalau ada yang ingin menaiki perahu, pemilik suka menanyakan tempat asal,” pungkas Nandang.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar