Kode Alam Air Situ Sanghyang dan Batu

  Selasa, 16 April 2019   Irpan Wahab Muslim
Maslika, salah seorang warga Desa Cilolohan yang juga sering dianggap juru kunci Situ Sanghyang, menunjukkan batu yang dipercaya membawa tanda akan adanya sesuatu hal terhadap Tasikmalaya. (Irpan Wahab/Ayotasik.com)

TANJUNGJAYA, AYOTASIK.COM–Bagi masyarakat sekitar Situ Sanghyang, Desa Cilolohan, Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya, air situ bukan hanya sebagai sumber kehidupan yang mengairi ratusan hektare sawah dan penopang kebutuhan saat musim kemarau, air situ juga sering dijadikan kode alam yang memberi petunjuk akan adanya suatu kejadian.

Maslika, salah seorang warga Desa Cilolohan yang juga sering dianggap juru kunci Situ Sanghyang, menuturkan, warga sekitar Situ meyakini jika terjadi perubahan warna pada air situ Sanghyang akan terjadi malapetaka.

Saat tahun 2009 silam, kata Maslika, air situ mendadak berubah menjadi kemerahan dari sebelumnya jernih. Selang beberapa bulan terjadi gempa dahsyat yang mengguncang Tasikmalaya yang menelan korban jiwa.

“Itu soal percaya atau tidak, tapi kami di sini meyakini hal itu. Saat air situ berubah menjadi kemerahan terjadilah gempa. Waktu tahun 1996 air situ juga berubah warga menjadi keruh. Pada tahun yang sama juga terjadi kerusuhan Tasikmalaya waktu itu,” papar Maslika.

Selain perubahan warna air Situ Sanghyang, kode alam lainnya yakni pada batu yang diyakini sebagai patilasan atau tempat duduk Prabu Linggawastu.

Prabu Linggawastu adalah utusan dari Kesultanan Cirebon untuk mengubah air situ dari sebelumnya berbahaya bagi warga lantaran adanya sumpah serapah resi guru.

“Prabu Linggawastu merupakan utusan Kesultanan Cirebon untuk menyucikan air situ. Karena waktu itu, siapapun yang meminum air situ akan berubah menjadi ikan. Itu sumpah dari resi guru karena sakit hati atas perlakuan dari anak raja yang berkuasa di Saung Gatang,” papar Maslika.

Kode alam yang terjadi pada batu yakni batu yang awalnya berbentuk oval itu utuh tanpa adanya retakan mendadak terbelah menjadi dua bagian. Itu terjadi sebelum tahun 2000 silam. Dari kode alam itu, warga meyakini saat ini bahwa terbelahnya batu sama dengan pemekaran Tasikmalaya menjadi dua wilayah Administratif.

“Pas waktu belah tanpa sebab, tidak berselang lama ada pemekaran Tasikmalaya. Kemudian ada pemekasan wilayah Kecamatan Sukaraja dan pemekaran wilayah Desa Cilolohan, “ papar Maslika.

Saat Ayotasik.com mencoba melihat secara langsung kondisi batu yang berada tepat di pinggir makam Prabu Linggawastu, saat ini kondisinya sudah terbelah menjadi tiga bagian. Maslika meyakini akan ada pemekaran wilayah Tasikmalaya bagian Selatan.

“Awalnya kan satu Tasikmalaya, batunya terbelah jadi Tasikmalaya ada dua kota dan kabupaten. Nah, saat ini saya tidak tahu akan ada kejadian apa, tapi kalau melihat kondisi saat ini kan sudah ada wacana tentang pemakaran Tasikmalaya Selatan,” papar Maslika.

Kode alam berupa air dan batu itu, lanjut Maslika, sudah diyakini warga selama puluhan tahun. Namun, terlepas benar atau tidaknya kode alam tersebut, Maslika menyerahkan sepenuhnya kepada keyakinan masing-masing orang.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar