Perdagangan, Alasan Etnis Tionghoa Masuk Wilayah Priangan Timur

  Kamis, 09 Mei 2019   Irpan Wahab Muslim
Sejarawan dari Soekapura Instutute Muhajir Salam. (Irpan Wahab Muslim/Ayotasik.com)

TAWANG, AYOTASIK.COM--Keberadaan Etnis Tionghoa di Tasikmalaya tidak terlepas dari perannya sebagai tenaga ahli atau kuli perkebunan teh pada abad ke-19 atau tahun 1860-an. Mereka pertama kali menginjakan kakinya di wilayah Sukapura Kolot atau saat ini bernama Kabupaten Garut.

Namun belakangan, jumlah etnis tionghoa berkembang seiring dengan meningkatkan iklim perdagangan di wilayah Priangan timur khususnya Tasikmalaya. Terlebih saat itu. Kolonial Belanda mempunyai kerjasama dengan kekaisaran Cina dalam hal perdagangan.

AYO BACA : Galunggung dalam Bingkai Sejarah

“Mereka awalnya datang ke kita sebagai tenaga ahli perkebunan. Tapi seiring perkembangan ekonomi bergerak ke bidang perdagangan,” papar sejarawan dari Soekapura Instutute Muhajir Salam kepada Ayotasik.com, Kamis (9/5/2019).

Etnis Tionghoa, lanjut Muhajir, pada zaman Kolonial Belanda ditempatkan sebagai strata kelas II, artinya diberikan keleluasaan dan proteksi dari Belanda. Perdagangan ke wilayah Tasikmalaya dimulai karena melihat potensi ekonomi terutama industri kreatif Tasikmalaya sangat banyak.

AYO BACA : Tancapan Lidi, Cikal Bakal Situ Sanghyang

“Salah satunya mereka mulai membidik para pengrajin batik di wilayah Tasikmalaya. Karena tadi diproteksi oleh Kolonial maka mereka itu menguasai perdagangan dari hulu sampai hilir. Mereka masuk ke Tasikmalaya sekitar pertengahan abad 19," tambah Muhajir.

Dengan menguasai perdagangan dari hulu sampai hilir, Etnis Tionghoa memasok kain mori dan tinta sebagai bahan kain batik kepada para pribumi atau warga Negara Indonesia. Hasilnya, dijual ke berbagai wilayah dan mancanegara. Bukan hanya menguasai perdagangan kain batik, mereka juga menguasai perdagangan kerajinan khas Tasikmalaya lainnya seperti payung, topi anyaman dan pakaian.

“Mereka menyediakan bahan baku kain batik, dikerjaan oleh pribumi dan mereka hanya menjualkan saja. Itu peran etnis tionghoa pada masa itu," tambah Muhajir.

Disinggung soal pecinan atau pemukiman Tionghoa di Tasikmalaya, Muhajir Salam menambahkan di Tasikmalaya sendiri tidak ada peciman atau perkampungan tionghoa. Mereka berbaur dengan masyarakat pribumi bahkan ada yang sampai menikah.

“Di kita tidak ada pecinan, yang ada itu di Ciamis. Nah yang paling banyak etnis tionghoa waktu itu di Singaparna. Karena disitu ada gudang perkebunan," pungkas Muhajir.

AYO BACA : Menikmati Curug Paraga yang Masih Perawan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar