Menelusuri Jejak Jalur Kereta Api Tasikmalaya - Singaparna

  Senin, 29 Juli 2019   Ananda Muhammad Firdaus
Bangunan Polsek Singaparna yang dahulu difungsikan sebagai salah satu stasiun kereta api di Tasikmalaya. (Irpan Wahab/Ayotasik.com)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- Pada masa kolonial Belanda yakni sekitar tahun 1910, terdapat jalur kereta api yang menghubungkan Tasikmalaya dengan Singaparna. Hal ini didasarkan pada adanya beberapa petak tanah yang saat ini ditandai sebagai milik PT KAI serta bekas bangunan stasiun.

Ayotasik.com mencoba menelusuri jejak jalur kereta api Tasikmalaya-Singaparna. Pembangunan jalur kereta api itu dimulai dengan dilakukan pengukuran dan pemetaan pada tahun 1910. Titik awal pembangunan dimulai dari stasiun Tasikmalaya.

Pembangunan dimulai pada Maret 1910 dengan panjang lintasan sejauh 17,8 kilometer. Jalur yang dibangun membentang mulai dari perkotaan dengan melewati bangunan umum dan pasar hingga menuju Singaparna. Dari total panjang itu, 5 kilometer di antaranya jalur datar dengan melewati arah jalan raya, sedangkan sisanya melalui area pegunungan yang memiliki kemiringan jalan dan tikungan.

AYO BACA : Galunggung Tetap Tenang Meski Tangkuban Parahu Erupsi

Peneliti Sejarah Tasikmalaya, Muhajir Salam mengungkapkan, latar belakang pembangunan jalur kereta api Tasikmalaya-Singaparna lebih kepada dorongan ekonomi. Hasil perkebunan mebutuhkan alat angkut yang lebih cepat.

"Karena saat itu di wilayah Singaparna tahun 1900 ada tujuh persil perkebunan swasta. Dan itu membutuhkan pengangkutan cepat sampai ke pelabuhan. Jadi dari Singaparna itu diangkut menuju Stasiun Tasikmalaya," papar Muhajir

Dari panjang 17,8 kilometer itu, terdapat dua halte yang dibangun yakni di Singaparna dan Cibanjaran. Selain itu ada 12 pemberhentian. Jarak pemberhentian satu dengan lainnya kira-kira berjarak 1200 meter.

AYO BACA : Pawai Jampana, Tutup Rangkaian Acara Hari Jadi Kabupaten Tasikmalaya

"Terbilang sangat rendah biaya untuk pembangunan jalur itu, makanya dipakai barang bekas pembangunan jalur Kereta Batavia ke Karawang. Berupa besi untuk bangunan atas dan jembatan," papar Muhajir

Setidaknya saat itu dibutuhkan waktu lebih kurang satu tahun untuk menyelesaikan jalur kereta Tasikmalaya-Ciawi. Jalur kereta itu akhirnya bisa dipakai untuk umum pada tanggal 1 Juni 1911.

Bukti lain adanya bekas jalur Kereta api Tasikmalaya-Singaparna yakni lewat keberadaan patok dan tanda di sepanjang jalan Pasar Baru Desa Singaparna, Kecamatan Singaparna. Patok berupa plang tertulis tanah milik PT. KAI terpasang dipinggir jalan bahkan dibagian bangunan warga.

Totong (86) warga Pasar Baru mengingat, sekitar tahun 1930 terdapat moda trasportasi kereta api uap dari Singaparna menuju Tasikmalaya. Totong yang saat itu berusia 6 tahun sering diajak oleh orang tua ke Tasikmalaya untuk menjual hasil perkebunan seperti kapulaga dan teh.

"Sok diajak ku pun bapak kapungkur, ngical eta we kapol, teh ka Tasik. Uihna sok meser acuk atawa beas. Aya kareta uap kapungkur mah," papar Totong.

Totong menambahkan, lokasi stasiun kereta api uap berada di wilayah Pancawarna yang saat ini dipakai untuk bangunan Polsek Singaparna dan SMPN 1 Singaparna.

AYO BACA : Ini Pekerjaan Besar Pemkab Tasik di Hari Jadi ke-387 Tahun

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar