Lipkhas: Tasikmalaya Pernah Menjadi Ibukota Sementara Jawa Barat

  Kamis, 01 Agustus 2019   Ananda Muhammad Firdaus
Tugu sosok ulama dan pahlawan Tasikmalaya, KH Zaenal Mustofa. (Irpan Wahab/Ayotasik.com)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- Tasikmalaya pernah menjadi ibu kota sementara Provinsi Jawa Barat. Itu terjadi pasca peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi pada Maret 1946 saat dipimpin oleh Gubernur Datuk Jamin. Sontak, seluruh jajaran sipil dan militer Jawa Barat berpindah ke Tasikmalaya.

Saat ibu kota provinsi berada di Tasikmalaya, setidaknya terjadi dua kali pergantian gubernur, yakni Gubernur Murjani dan Sewaka. Keduanya secara bergantian memimpin Jawa Barat dari Tasikmalaya dari Agustus tahun 1946 hingga Februari 1948.

AYO BACA : Tasikmalaya Dalam Bingkai Sejarah

Saat itu, Tasikmalaya begitu berperan bagi Provinsi Jawa Barat bahkan bagi kelangsungan kemerdekaan Indonesia. Saat itu, semua barisan dan laskar perlawanan rakyat dikendalikan dari Tasikmalaya. Dalam keadaan nomaden inilah Gubernur Sewaka atau dikenal sebagai Raden Mas Sewaka terus berkonsolidasi dengan para pemimpin perjuangan untuk terus berperang melawan Belanda.

Di Tasikmalaya, pusat pemerintahan beberapa kali berpindah karena agresi militer Belanda. Awalnya, pusat pemerintahan berapa di Lebak Siuh yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya. Karena dalam incaran Belanda, Gubernur Sewaka memindahkan kembali pusat pemerintahan ke Tawangbanteng, Kecamatan Cipatujah.

AYO BACA : Daftar Bupati Tasikmalaya dari Masa ke Masa

"Berpindahnya pusat pemerintahan waktu itu karena kondisi genting agresi militer Belanda. Jadi sempat juga dipindahkan ke wilayah Sukaraja," papar peneliti sejarah Tasikmalaya Muhajir Salam kepada ayotasik.com, Kamis (17/8/2019).

Dipilihnya Tasikmalaya sebagai ibukota sementara Provinsi Jawa Barat, lanjut Muhajir, karena beberapa faktor. Baik itu karena alasan geografis maupun alasan politis.

Secara geografis, Tasikmalaya yang memiliki bentang alam yang berbukit sehingga memudahkan dalam menerapkan taktir gerilya Pasukan Siliwangi. Sementara secara politis, Tasikmalaya menjadi pusat perekonomian dan pergerakan nasional di Priangan Timur serta dekatnya jarak dengan Yogyakarta yang kala itu menjadi ibu kota negara.

"Ada juga faktor lain, yakni antusiasme masyarakat mempertahankan kemerdekaan sangat tinggi. Saya perkirakan itu alasan Tasikmalaya menjadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat saat itu," papar Muhajir.

Namun bulan Februari 1948, gencarnya agresi milter Belanda yang dibantu sekutu membuat Tasikmalaya akhirnya jatuh ke tangan penjajah. Pasukan Siliwangi pun akhirnya harus angkat kaki dari Tasikmalaya. Sementara Gebernur Sewaka berakhir nasibnya dengan ditangkap dan dipenjarakan di Tangerang, Banten.

AYO BACA : Masa Depan Menurut Batu Keramat Situ Sanghiang

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar