Belajar Daring Tak Efektif, Siswa Otomotif Belajar Langsung di Bengkel Tetangga

  Minggu, 18 Oktober 2020   Heru Rukanda
Dua siswa smk jurusan otomotif belajar di bengkel selama sekolah libur akibat pandemi Covid-19, Minggu (18/10/2020). (Ayotasik.com/Heru Rukanda)

MANGKUBUMI, AYOTASIK.COM -- Sejak pandemi Covid-19, seluruh jenjang pendidikan dari mulai tingkat TK hingga SMA/SMK sederajat menghentikan aktivitas di sekolah untuk mencegah penularan. Belajar pun dilakukan secara daring dari masing-masing rumah siswa.

Namun, bagi siswa yang belajar di sekolah kejuruan yang notabene yang sangat perlu pembelajaran praktik langsung, sekolah daring dianggap kurang efektif.

Salah seorang siswa SMK jurusan otomotif, Ari Adha (17), warga Kampung Babakan Kupa, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya mengatakan, meski pembelajaran dilakukan secara online , banyak materi yang kurang dimengerti karena harus dilaksanakan langsung di lapangan.

"Saya kan jurusan sekolahnya otomotif, jadi kalau belajar daring susah mengerti. Harus praktik langsung agar lebih mudah dimengerti," ujar Ari, Minggu, (18/10/2020).

Ari menambahkan, beruntung tetangganya membuka bengkel motor sehingga dirinya bisa belajar dan mempraktikan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru di sekolah.

"Saya bersama 2 teman sekampung belajar di bengkel Kang Peri ini sudah hampir 2 bulan. Di sini kami diajarkan menyerpis motor bebek, metik, vespa. Mulai dari servis mesin, ganti oli hingga kelistrikan," ucap Ari.

Hal yang sama diutarakan oleh Rizki Rendiza (17) siswa sekolah yang juga mengambil jurusan otomotif. Menurutnya, belajar di bengkel langsung banyak sekali ilmu yang sebelumnya belum dipelajari di sekolah ditemukan di bengkel.

"Alhamdulillah banyak sekali ilmu yang diperoleh di bengkel. Selain diajarkan cara menyervis dan mengetahui penyakit motor mogok, kami juga diajarkan bagaimana memperbaiki motor tanpa harus mengganti sparepart motor," ungkap Rizki.

Sementara itu, pemilik bengkel motor Periadi (36) mengatakan, dia merasa bersyukur bisa memberikan kesempatan belajar kepada anak-anak di kampungnya agar memiliki keahlian dalam memperbaiki sepeda motor yang mogok.

"Ada 3 siswa yang ikut belajar di sini. 2 siswa laki-laki dan satu siswa perempuan. Saya tidak khawatir nantinya usaha bengkelnya tersaingi karena rezeki mah sudah ada yang ngatur," ujar Peri.

Peri menjelaskan, daripada anak-anak usia sekolah di kampungnya bermain tidak jelas, lebih baik saya ajak untuk belajar di bengkel. Selain mengajarkan bagaimana memperbaiki mesin motor, dia berencana mengajarkan keahlian lain seperti mengelas dan anyaman.

"Alhamdulillah mesin lasnya sudah ada, tinggal nanti mengatur waktu belajarnya saja," ucap Peri.

Peri berharap apa yang dipelajari anak-anak di bengkelnya bisa bermanfaat, minimalnya bisa memperbaiki sendiri motor milik mereka ketika mogok.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar